Pembantaian Rakyat Palestina, Apakah Gerakan Boikot Efektif?

Pembantaian Rakyat Palestina, Apakah Gerakan Boikot Efektif?

Smallest Font
Largest Font

Mereka lebih takut merugi

Ketimbang takut kepada Tuhan

Hampir setiap Ramadan, Rakyat Palestina yang seharusnya khusyuk dalam beribadah justru mendapatkan kezaliman. Tidak terkecuali pada Ramadan tahun 2025 kali ini. Gencatan senjata akhirnya dilanggar Israel. Mereka menyerang Gaza dan dalam semalam membunuh lebih dari 400 warga Palestina. Seperti biasa, dunia Islam hanya bisa diam, atau sebatas melakukan kecaman.

Melanggar perjanjian merupakan tabiat yang sudah turun-temurun dilakukan.

"(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat." Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (Surat Al-Baqarah ayat 83)

Meskipun demikian, tidak sedikit masyarakat dari berbagai negara dan latar belakang agama mengutuk peristiwa tersebut. Selain melakukan demonstrasi, mereka juga menyerukan boikot terhadap produk-produk yang ditengarai ikut membantu Israel. Gerakan semacam ini selalu spontan, ketika terjadi serangan dan akan berangsur kendor ketika serangan berakhir. Padahal bisa jadi produk-produk tersebut membiayai mereka sepanjang tahun.

Lantas seberapa efektif boikot produk tersebut?

Rasulullah SAW. dan kaum muslim Makkah juga pernah mengalami boikot. Bahkan berlangsung selama tiga tahun. Tepatnya sejak tahun 7 kenabian hingga 10 kenabian. Rasulullah SAW. dan para pengikutnya dipaksa untuk tinggal di sebuah lembah yang sempit di sekitar Makkah. Orang-orang Quraisy membatasi aktivitas sosial-ekonomi dengan kaum Muslimin dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.

Selama peristiwa pemboikotan tersebut kaum Muslimin mengalami kekurangan makanan. Karena mereka tidak bisa membeli makanan dari luar, meskipun saat itu mereka memiliki uang. Bahan makanan dalam jumlah terbatas, dikirim oleh orang Quraisy yang peduli. Jumlahnya tidak mencukupi sehingga dikisahkan kaum Muslimin harus memakan dedaunan seadanya.

Pemboikotan itu baru berakhir ketika Rasulullah SAW. mendapatkan petunjuk jika, Allah SWT. mengutus rayap untuk memakan naskah perjanjian boikot yang disimpan di Ka'bah itu. Ia meminta Abu Thalib, untuk mengabarkan kepada tokoh-tokoh Quraisy. Setelah dibuka, ternyata benar, naskah tersebut telah dimakan rayap, dan hanya menyisakan tulisan yang menyebut nama 'Allah'.

Boikot Produk Apakah Efektif?

Beberapa tahun terakhir, ada puluhan hingga ratusan gerai makanan siap saji dengan merk terkenal menutup operasional mereka di berbagai negara. Selain karena alasan persaingan, dan turunnya daya beli. Mereka juga mengaku mendapatkan imbas dari gerakan boikot produk yang dianggap mendukung kejahatan perang di Palestina.

Hal serupa juga pernah terjadi di negara-negara timur tengah. Ketika produk-produk makanan dan minuman dengan merk terkenal mengalami penurunan omzet yang signifikan. Sebagai perusahaan yang mengejar profit, tentu mereka mneghitung untung dan rugi. Ketika dalam hitungan bisnis dianggap merugi, mereka tidak akan bertahan.

Kerugian merupakan ketakutan terbesar dari bisnis kapitalis. Mereka rela menerabas nilai-nilai kemanusiaan dan mengabaikan kesehatan para konsumennya asalkan mendapatkan keuntungan. Maka tidak keliru jika ada ungkapan, mereka lebih takut merugi, ketimbang takut kepada Tuhan.

Ketika nurani mereka tidak tersentuh dengan nilai kemanusiaan dan ancaman dari hukuman Tuhan. Maka kita bisa melakukan sebagian langkah kecil untuk memberikan ketakutan dengan kerugian. Menghentikan membeli produk mereka bukan hanya akan memberikan tekanan. Tetapi juga bisa menghidupkan produk-produk lokal untuk terus berkembang. Apalagi produk-produk muslim. Jangan sampai umat Islam hanya dimanfaatkan sebagai konsumen. Jika belum bisa menghindari semua produk. Kita bisa melakukannya dengan produk yang sudah ada penggantinya.

Kisah Burung Pipit Zaman Nabi Ibrahim

Soal seberapa besar pengaruh dan hasil dari aksi tersebut. Tidak perlu kita risau. Karena seekor Burung Pipit pada zaman Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita. Untuk siapa kita berpihak.

Ketika seekor Cicak meremehkan apa yang dilakukan untuk memadamkan api yang membakat Nabi Ibrahim, Burung Pipit menjawab.

“Wahai cicak, memang tidak mungkin aku dapat memadamkan api yang besar itu. tetapi aku tidak mau Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai dizalimi. Allah tidak akan memandang hasilnya. Apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tetapi Allah Ta’ala akan melihat di mana aku berpihak." [e]

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow