Tidak Berbuat Baik, Karena Takut Akan Berhenti Berbuat Baik
Amal yang baik itu yang dilakukan secara istikamah. Meskipun kecil, sedikit tetapi yang penting istikamah. Demikian pesan dari para Ustadz/Kyai dalam berbagai pengajian.
Dalam Surat Al-Ahqaf ayat 13-14 disebutkan, artinya "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah', lalu mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidaklah mereka merasa sedih."
Ketakutan untuk bisa beramal secara istikamah terkadang membuat seseorang menjadi ragu untuk beramal baik. Ingin membaca Al Qur'an, tetapi takut tidak bisa meneruskan secara rutin. Ingin sedekah tetapi khawatir hanya sekali dua kali, setelahnya lupa. Berniat puasa Sunnah, takut kalau tidak bisa lanjut.
Bahkan dalam lingkup lebih luas, terkadang takut untuk memulai sebuah gerakan amal, karena takut akan bubar di jalan. Lantas apakah ketakutan untuk melakukan amal yang istikamah, membuat kita berdiam saja.
Suatu ketika, teman-teman menggalang dana untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebut saja namanya Gerakan Dana Taawun. Donasi Lima Ribu setiap bulan, hasilnya dibelikan paket bahan pokok untuk kemudian diberikan kepada yang membutuhkan.
Memang tidak ada prosedur rumit, karena sifatnya spontan. Ada yang donasi, ada yang membutuhkan, ada yang menyalurkan.
Awalnya kegiatan semacam ini sudah dihakimi, tidak akan bertahan lama. Dan memang pada akhirnya tidak bertahan lama. Hanay setahun atau dua tahun. Bisa dibilang tidak istikamah. Tetapi, dari gerakan tersebut sudah ada banyak orang yang terbantu untuk urusan makan. Ada banyak orang yang berkesempatan atau tergerak untuk menjadi dermawan.
Jika sejak awal sudah takut tidak istikamah. Apakah lantas sebuah gerakan atau inisiasi kebaikan harus padam?
Jangan takut memulai kebaikan, meskipun mungkin tidak bisa istikamah.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow