Wamendikdasmen Fajar: Revitalisasi Sekolah Bangun Ekosistem Belajar, Bukan Sekadar Gedung
BANTUL — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. menegaskan bahwa program revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menciptakan ekosistem pembelajaran yang aman, sehat, nyaman, dan kondusif bagi peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Fajar saat meresmikan pembangunan TK 'Aisyiyah Pembina Banguntapan Unit 2 di Banguntapan, Bantul, Jumat (24/7). Menurutnya, revitalisasi sekolah merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah untuk memperkuat sinergi dengan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan.
"Ketika pemerintah menggalakkan revitalisasi sekolah, fokusnya tidak hanya pada perbaikan fisik, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang aman, nyaman, dan kondusif. Hal ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan Sekolah ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah," ujar Fajar.
Ia menjelaskan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu'ti, menerima mandat dari Presiden untuk memberikan perhatian yang setara kepada seluruh penyelenggara pendidikan, baik sekolah negeri maupun swasta.
Menurutnya, lembaga pendidikan yang dikelola organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, 'Aisyiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Taman Siswa, PGRI, hingga berbagai organisasi atau yayasan pendidikan lainnya memiliki hak yang sama untuk memperoleh dukungan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan pemerintah menargetkan pada 2028 tidak ada lagi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat. Untuk mendukung target tersebut, tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran hampir Rp90 triliun guna memperbaiki puluhan ribu sekolah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta wilayah terdampak bencana.
Ia menilai kolaborasi pemerintah dengan organisasi masyarakat, termasuk 'Aisyiyah, akan mempercepat terwujudnya ekosistem pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif dan berbasis komunitas.
Fajar juga mengapresiasi konsistensi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam mengembangkan amal usaha pendidikan. Hampir setiap pekan terdapat pembangunan maupun peresmian lembaga pendidikan baru yang menunjukkan besarnya komitmen kedua organisasi tersebut terhadap kemajuan bangsa.
Pengabdian itu, lanjutnya, tidak hanya dirasakan di Yogyakarta, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah terluar Indonesia. Ia mencontohkan pengalamannya saat meninjau pelaksanaan program revitalisasi sekolah di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Di daerah tersebut, Fajar mengunjungi SD dan SMP Maritim Mola yang melayani pendidikan bagi anak-anak Suku Bajo. Menariknya, kepala SMP Maritim Mola merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar. Ia juga meninjau SMA Muhammadiyah Wakatobi yang telah menerima bantuan revitalisasi sehingga memiliki kondisi sarana yang jauh lebih baik.
"Ini membuktikan bahwa dakwah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah tidak hanya hadir di Yogyakarta, tetapi juga hadir menyapa masyarakat di daerah terluar seperti Wakatobi," ujarnya.
Fajar menambahkan, pengalaman serupa juga ditemuinya di Papua, ketika melihat kiprah Muhammadiyah melalui Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong yang membina masyarakat Suku Kokoda. Baginya, konsistensi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam melayani berbagai kelompok masyarakat menjadi cerminan dakwah Islam yang inklusif dan membawa kemaslahatan.
Ia berharap jejak pengabdian 'Aisyiyah selama 107 tahun di bidang Pendidikan Anak Usia Dini terus melahirkan sekolah-sekolah unggulan yang menjadi rujukan nasional. Menurutnya, tantangan pendidikan ke depan bukan lagi sekadar memperbanyak jumlah lembaga, melainkan meningkatkan mutu layanan pendidikan.
"Dengan berdirinya TK 'Aisyiyah Pembina Banguntapan Unit 2, kami berharap pendidikan anak usia dini semakin kuat. Sinergi antara pemerintah dan 'Aisyiyah akan mempercepat terwujudnya ekosistem pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif dan berbasis komunitas," katanya.
Menutup sambutannya, Fajar mengibaratkan filosofi dakwah Muhammadiyah sebagai filosofi garam, bukan filosofi gincu.
"Gincu tampak merah merona di luar tetapi belum tentu memberikan rasa. Sementara garam tidak selalu terlihat, tetapi kehadirannya memberi rasa dan manfaat yang nyata bagi sekitarnya," tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar 'Aisyiyah atas kolaborasi yang selama ini terjalin dalam memajukan pendidikan Indonesia, seraya berharap pembangunan TK 'Aisyiyah Pembina Banguntapan Unit 2 dapat berjalan lancar dan menjadi salah satu pusat pendidikan anak usia dini yang unggul di Daerah Istimewa Yogyakarta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow