Stafsus Mendikdasmen Ingatkan Sekolah Tak Hanya Megah, Pendidikan Harus Bermutu
SLEMAN — Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali Muis, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membentuk peserta didik menjadi pribadi yang berani tampil, berpikir kritis, cerdas secara intelektual, serta memiliki akhlak yang baik.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen, yakni pendidikan bermutu untuk semua. Meskipun kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, termasuk dalam capaian asesmen internasional, semangat untuk mewujudkan pendidikan bermutu tidak boleh berhenti.
“Tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tidak bersekolah dengan alasan apa pun. Pendidikan bermutu untuk semua adalah jalan untuk melahirkan manusia mandiri, sejahtera, dan menjadi ulil albab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an,” tegasnya dalam pengajian Milad ke-57 SMP Muhammadiyah Pakem, Sabtu (31/1).
Arif menjelaskan bahwa bantuan revitalisasi yang diberikan pemerintah kepada sekolah, termasuk SMP Muhammadiyah Pakem, bukan sekadar untuk memperindah bangunan. Lebih dari itu, revitalisasi harus berdampak langsung pada peningkatan kualitas proses pembelajaran.
“Gedung boleh megah, fasilitas boleh bagus, tetapi yang paling penting adalah proses pendidikannya juga harus bermutu. Jangan sampai sekolah hanya terlihat megah, tetapi pembelajaran dan pembinaan akhlaknya tidak berjalan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era perubahan teknologi yang sangat cepat. Menurutnya, peserta didik saat ini merupakan generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh dengan dunia digital di genggaman tangan, berbeda dengan generasi guru yang tumbuh di era cetak dan media konvensional.
“Sekarang anak-anak hidup di era algoritma dan kecerdasan buatan (AI). Orang pintar hari ini bukan lagi yang hafal banyak informasi, tetapi yang mampu memilah mana yang benar dan mana yang keliru,” jelasnya.
Dalam konteks pembelajaran, Arif menekankan pentingnya transformasi metode mengajar. Guru dituntut menghadirkan pembelajaran yang adaptif, bermakna, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis, sejalan dengan karakter soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kini menuntut penalaran tingkat tinggi.
Selain aspek akademik, ia menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi fondasi utama. Mengutip Al Quran surat An-Nisa ayat 9, Arif mengingatkan pentingnya ketakwaan guru dan orang tua dalam mendidik generasi agar tidak tumbuh menjadi generasi yang lemah.
“Mendidik bukan sekadar memindahkan ilmu, tetapi membentuk manusia yang punya hati dan pikiran. Pendidikan karakter adalah warisan yang akan terus melekat sepanjang hayat,” ujarnya.
Ia juga mengajak orang tua untuk memperkuat kolaborasi dengan sekolah melalui dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan pendidikan, bukan dengan pendekatan konfrontatif.
Dalam kesempatan tersebut, Arif turut menyinggung "Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" yang dicanangkan Kementerian, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan makanan bergizi, giat belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Menurutnya, kebiasaan ini hanya akan berhasil jika dijalankan secara konsisten melalui kerja sama antara sekolah dan keluarga.
Menutup pengajian, Arif menyampaikan apresiasi atas Milad ke-57 SMP Muhammadiyah Pakem serta peresmian fasilitas pembelajaran yang baru.
“Selamat Milad ke-57 SMP Muhammadiyah Pakem. Semoga dengan fasilitas yang semakin baik dan proses pendidikan yang adaptif serta berkarakter, sekolah ini mampu melahirkan generasi cerdas, kritis, dan berakhlak mulia,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow