Kemendikdasmen Dorong Sinergi Catur Pusat Pendidikan untuk Penguatan Karakter di Jawa Tengah
SEMARANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menyelenggarakan kegiatan Fasilitasi dan Advokasi Kebijakan Penguatan Karakter di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, Selasa (30/9). Kegiatan ini menekankan pentingnya sinergi Catur Pusat Pendidikan—satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media—dalam mengimplementasikan kebijakan penguatan karakter, khususnya penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka), Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks, mulai dari adiksi gawai, fenomena strawberry generation dan generasi nocturnal, hingga paparan konten daring yang berisiko. Menurutnya, situasi ini menuntut perhatian serius pemerintah, sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.
“Tujuh kebiasaan baik ini walaupun terlihat sederhana, tapi memiliki dampak besar dalam pembentukan karakter. Misalnya bagaimana anak menghargai waktu, disiplin, empati, menjaga kesehatan, hingga memiliki semangat belajar. Semua itu adalah fondasi bagi lahirnya generasi tangguh,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rusprita menyoroti kecenderungan anak-anak untuk mager (malas bergerak). Karena itu, peran orang tua dan guru menjadi sangat penting dalam mengarahkan energi besar anak agar tersalurkan pada kegiatan positif. Melalui Senam Anak Indonesia Hebat maupun kegiatan ekstrakurikuler, anak-anak tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga tumbuh percaya diri dan memiliki keterampilan bersosialisasi.
Kapuspeka juga menekankan pentingnya peran media dalam Catur Pusat Pendidikan. Menurutnya, media bukan sekadar pelengkap, melainkan corong informasi yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku anak. “Kadang anak lebih percaya pada apa yang ditampilkan di media sosial dibanding nasihat guru atau orang tua. Karena itu, media harus menjadi teladan positif,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Advokasi Penguatan Karakter, Agus Muhammad, menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebatas sosialisasi kebijakan, melainkan juga upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif, beragam, dan berkarakter. “Kita ingin memastikan sekolah menjadi ruang aman, nyaman, dan gembira. Melalui pembiasaan positif dan semangat kebhinnekaan, penguatan karakter bisa lebih nyata,” tegasnya.
Kegiatan ini diikuti peserta dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, melibatkan kepala sekolah, guru, komunitas pendidikan, orang tua, organisasi keagamaan, media massa, hingga mitra organisasi. Hasil diskusi diharapkan melahirkan rencana tindak lanjut yang jelas, memetakan peran masing-masing pihak, serta menghasilkan intervensi kolaboratif untuk memperkuat pendidikan karakter di satuan pendidikan.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow