Sikap Hidup Ihsan: Belajar dari Buku Gerakan Islam Berkemajuan Karya Prof. Haedar Nashir – Bagian V
Oleh: Arif Jamali Muis*
Mari kita lanjutkan memetik pembelajaran dari karya Prof. Haedar Nashir, Gerakan Islam Berkemajuan (2024). Kali ini, kita akan mendalami tentang sikap ihsan sebagai landasan dalam Risalah Islam Berkemajuan.
Pandangan kehidupan dan keduniaan dalam perspektif Islam tidak didasarkan pada humanisme Barat, tetapi berlandaskan ketuhanan atau humanisme teosentris (perbedaan antara kemajuan ala Barat dan kemajuan menurut Islam telah dibahas dalam catatan sebelumnya). Maka, sikap hidup ihsan adalah pilihan terbaik bagi umat, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul.
Menurut Prof. Muhammad Ali, Direktur Program Studi Timur Tengah dan Islam di University of California, Riverside, dalam Pengajian Ramadan 1443 H PP Muhammadiyah (Rabu, 6 April 2022), dengan mengutip Toshihiko Izutsu, ihsan memiliki dua bentuk kebaikan, yaitu: ketundukan yang mendalam kepada Allah dan segala kebaikan kepada sesama manusia sebagai wujud ketundukan kepada Allah. Kedua perbuatan tersebut dimotivasi oleh semangat menolong, kasih sayang, dan kelembutan. Ihsan adalah perbuatan baik secara maksimal, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sebagai wujud kesejahteraan bagi alam semesta.
Lebih lanjut, Prof. Haedar dalam bukunya Gerakan Islam Berkemajuan (hal. 83) menyebutkan bahwa umat Islam harus menjalankan hidup dengan ihsan dalam dua karakter utama, yaitu sebagai "abdullah", yakni hamba Allah yang senantiasa beribadah dan berserah diri kepada-Nya, serta sebagai "khalifah fil ard" yaitu wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi.
Seorang Muslim yang berjiwa ihsan akan selalu berusaha berbuat yang terbaik dan membawa kemaslahatan, kebaikan, serta kemajuan hidup, meskipun secara bertahap, sambil menjauhi keburukan dan mafsadat. Insan beriman yang berjiwa ihsan berbuat baik secara optimal tanpa merasa diri paling muhsin (paling baik). Sikap rendah hati menjadi kunci, dengan menjauhi sifat jumawa dan takabur, serta tidak merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, atau paling mampu.
Setiap Muslim berhak menunaikan ihsan sesuai dengan kemampuan dan jalan yang dipilihnya dalam upaya meraih ridha dan karunia Allah SWT.
---
Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow