Mentari Telah Terbit di Ufuk Timur Indonesia
Oleh: Dr. H. Riduwan*
Perjalanan Yogyakarta menuju Wamena memang cukup melelahkan. Disamping membutuhkan tiga kali ganti penerbangan, waktu yang lama karena perbedaan wilayah, juga karena berbagai isu terkait keamanan. Bayangan Papua Pegunungan (Papeng), dengan berbagai dinamika keamanannya menambah beban yang sempat menghantui kami semua. Berbekal surat tugas dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tim Pendamping Dakwah dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menunaikan tanggungjawabnya, berangkat menuju Papeng.
Berbagai hayalan negatif tentang Papeng, semuanya sirna setelah dipagi hari kami transit di Jayapura sudah disambut ceria oleh pengurus PWM dan PWA Papua Induk. Sambil menikmati kopi Jayapura yang nikmat, kami berbincang ringan tentang perkembangan dakwah Muhammadiyah di bumi Cenderawasih. Banyak hal positif kami dapatkan dari obrolan hangat penuh makna. Optimisme itu semakin tinggi ketika kami mendarat di bandara Wamena. Meski terkesan sederhana, tapi bandara Wamena memberi nilai yang tinggi bagi Muhammadiyah.
Jumat pagi, kami pertama kali menginjakkan kaki di Papeng, kedamaian dan toleransi itu terasa nyata, bukan ilusi. Rombangan kami langsung menuju kampung Walesi untuk melaksanakan sholat jumat dan sekaligus silaturahim dengan pengurus Pondok Pesantren Al Istiqamah, satu-satunya pesantren di Kabupaten Jaya Wijaya bahkan mungkin Papeng. Bangunan yang sederhana, santri yang polos dan alam yang subur, memberikan aura islami yang sejuk. Memang Walesi merupakan kampung di Papeng dengan penduduk asli yang beragama islam lebih banyak dibanding daerah lain.
Tantangan Dakwah
Islam mengajarkan kedamaian, sebagaimana makna asal dari kata tersebut. Oleh karenanya dakwah mesti menghadirkan kedamaian untuk siapapun. Mengajak mereka kepada jalan kebajikan dengan tujuan akhir di surga, tanpa harus menghilangkan identitas asasinya. Dakwah hadir tidak diruang kosong tetapi menyapa dinamika kehidupan yang telah subur akan tradisi bahkan keyakinan tertentu. Begitupun di Papeng, masyarakat aslinya telah memiliki tradisi dan keyakinan keagamaan yang mengakar kuat. Berbalut dengan budaya lokal, agamapun menjadi mudah bisa diterima oleh mayoritas penduduk asli, dengan penuh damai-kasih.
Aktifis dakwah islam sesungguhnya telah banyak yang mencoba berhikmad untuk berdakwah dan mereka umumnya berasal dari luar Papeng. Kehadirannnya mencerminkan semangat jihad yang tinggi, meski lebih banyak dijalankan secara munfarid. Pelembagaan dakwah agak sulit dijumpai, tetapi apapun, kehadiran pendakwah ini patut diapresiasi karena tantangan dakwah memang luar biasa besar.
Papeng sesungguhnya daerah yang subur. Air melimpah dan hawa dinginnya menyimpan misteri alam, yang tercipta berkat karunia Ilahi. Tetapi kondisi paradoks juga terjadi. Harga kebutuhan pokok mahal, upah tenaga kerja tinggi, tetapi penghasilan masyarakatnya masih rendah, sehingga daya belinya kecil. Itulah potret kemiskinan yang ada. Alam yang subur belum mampu diolah menjadi sumber pangan potensial. Ketergantungan dengan bahan pangan dari daerah lain sangat tinggi, padahal tranportasinya hanya bisa dilalui lewat udara. Kondisi infrastuktur yang terbatas tersebut turut menyumbang mahalnya biaya hidup.
Matahari itu telah Terbit
Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Sang Surya, Mars Aisyiyah dan lagu khas Provinsi Papua Pegunungan, menggema di aula gedung Swalayan di Wamena, menandai terbitnya matahari di ujung timur Indonesia. Pagi itu, Sabtu (8/11) menjadi hari yang bersejarah bagi Muhammadiyah. Pengukuhan Pengurus PWM dan PWA menjadi bukti nyata, bahwa Muhammadiyah hadir menyinari seluruh negeri. Gerakan dakwah Muhammadiyah menghadirkan asa yang tinggi, bagi masyarakat di Papeng.
Menyimak arahan dari Pemerintah Daerah Provinsi Papeng dan Amanat PP Muhammadiyah, serta berbagai sambutan dari Ketua PWM dan PWA setempat, semakin meneguhkan keyakinan bahwa kehadiran Muhammadiyah diharapkan memberi makna pembaharuan bagi masyarakat Papeng. Islam Berkemajuan yang ikonik menjadi narasi yang membangitkan asa terjadinya kemajuan islam bagi pembangunan peradaban yang tercerahkan.
Setelah pengukuhan, seluruh pengurus PWM dan PWA Papeng menjalani Baitul Arqom (BA), sebagai bukti komitmen dan dedikasi dalam mengemban amanah sebagai pimpinan. Antusias peserta BA sangat baik, yang menjadi penanda penting untuk terus mengabdikan diri pada dakwah islam melalui Muhammadiyah. Tentu, BA hanya gerbang awal untuk membentuk organisasi yang solid, selanjutnya adalah program kerja yang terukur dengan anggaran yang riil. Pengurus Muhammadiyah Papeng dituntut untuk terus mengembangkan diri dan organisasasi, sehingga khidmat dakwah di bumi paling timur Indonesia mampu membawa perubahan.
Banyak lahan dakwah yang potensial untuk dikembangkan dalam berbagai bidang. Pendidikan, kesehatan, dan pembinaan keagamaan lainnya tentu agenda penting yang segera dijalankan. Ketersediaan pangan berdasarkan potensi alam yang tersedia juga menjadi prioritas bidang dakwah yang penting. Memutus mata rantai kemiskinan mesti menjadi arus utama dakwah Muhammadiyah di Papeng. Kolaborasi dengan semua stakeholder keumatan menjadi kunci keberhasilan dalam menyinari negeri di ujung timur Indonesia. Semoga.
What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow