Muhammadiyah Perkuat Agenda Industrialisasi Lewat Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026

Muhammadiyah Perkuat Agenda Industrialisasi Lewat Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026

Smallest Font
Largest Font

TULUNGAGUNG — Lembaga Pengembang UMKM (LP UMKM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bersama Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) sukses menyelenggarakan Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026 di Hall Masjid Al-Fattah, Tulungagung, Sabtu (18/7). Agenda ini menjadi ajang konsolidasi pelaku usaha Muhammadiyah, UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat peran ekonomi umat sekaligus mendorong agenda industrialisasi berbasis kolaborasi.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) sekaligus Wakil Ketua LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghufron Mustaqim, S.I.P., M.P.A., menegaskan bahwa industrialisasi Muhammadiyah tidak cukup diwujudkan hanya dengan menambah jumlah pelaku usaha.

"Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem bisnis yang saling terhubung, terintegrasi, dan mampu menciptakan nilai tambah di setiap mata rantai usaha," ujarnya di hadapan ratusan pelaku UMKM dan pengusaha Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Menurut Ghufron, Muhammadiyah memiliki modal sosial, jaringan kelembagaan, amal usaha, serta sumber daya manusia yang besar. Seluruh potensi tersebut perlu dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi yang terorganisasi sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap agenda industrialisasi nasional.

Ia menjelaskan, industrialisasi Muhammadiyah harus dimulai dari penguatan rantai pasok (supply chain) internal. Produk dan jasa yang dihasilkan warga Muhammadiyah diharapkan saling terhubung dalam satu ekosistem, mulai dari penggunaan produk, distribusi, hingga perluasan akses pasar. Dengan demikian, pertumbuhan usaha tidak lagi berjalan secara individual, melainkan berkembang secara kolektif melalui kolaborasi.

Ghufron menambahkan, Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dibentuk sebagai instrumen untuk menghubungkan para pengusaha Muhammadiyah lintas sektor, wilayah, dan skala usaha. SUMU tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga platform kolaborasi yang mempertemukan kebutuhan pasar, kapasitas produksi, akses pembiayaan, investasi, distribusi, hingga transformasi digital dalam satu ekosistem bisnis yang saling menguatkan.

Ia juga mendorong perubahan paradigma di kalangan pelaku UMKM agar tidak hanya berorientasi pada penjualan produk.

"Pelaku usaha tidak cukup hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi harus mulai membangun bisnis yang memiliki tata kelola yang baik, memanfaatkan teknologi digital, meningkatkan kualitas produk, memperkuat branding, serta membangun kemitraan strategis agar mampu naik kelas menjadi bagian dari industri nasional bahkan global," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ghufron menjelaskan bahwa agenda industrialisasi Muhammadiyah bertumpu pada sejumlah pilar utama, yaitu penguatan jejaring bisnis antaranggota, pembangunan rantai pasok yang terintegrasi, digitalisasi proses bisnis, pemanfaatan teknologi seperti blockchain untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi, serta penciptaan pasar bersama melalui kolaborasi antar pengusaha Muhammadiyah.

"Industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik. Industrialisasi adalah membangun ekosistem yang membuat setiap pelaku usaha tumbuh bersama. Ketika pengusaha Muhammadiyah saling terhubung dalam rantai nilai, maka akan lahir kekuatan ekonomi yang mampu memberikan dampak luas bagi umat dan bangsa," tegasnya.

Selain pemaparan strategi industrialisasi, Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026 juga menghadirkan berbagai agenda penguatan kapasitas pelaku usaha, seperti Success Story UMKM, Business Matching, Product Showcase, pembahasan Business Opportunity, sesi Omnichannel dan Blockchain untuk UMKM, Business Plan Coaching, hingga forum Business to Business (B2B) yang membuka peluang kolaborasi nyata antarpengusaha.

Melalui pertemuan ini, SUMU mengajak para pengusaha Muhammadiyah meninggalkan pola usaha yang berjalan sendiri-sendiri menuju model bisnis yang kolaboratif dan terintegrasi. Sinergi antarpelaku usaha diyakini menjadi fondasi penting untuk membangun industri yang kuat, meningkatkan daya saing, serta memperluas kontribusi ekonomi Muhammadiyah bagi masyarakat.

Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026 sekaligus menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat pilar ekonomi sebagai bagian dari dakwah Islam Berkemajuan. Dengan mengintegrasikan jejaring organisasi, kewirausahaan, inovasi, dan teknologi, Muhammadiyah optimistis mampu melahirkan ekosistem industri yang produktif, inklusif, dan berdaya saing global.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow