Business Gathering UMKM Jatim 2026: Blockchain Dinilai Jadi Kunci Membangun Kepercayaan dan Daya Saing UMKM

Business Gathering UMKM Jatim 2026: Blockchain Dinilai Jadi Kunci Membangun Kepercayaan dan Daya Saing UMKM

Smallest Font
Largest Font

TULUNGAGUNG — Teknologi blockchain dinilai tidak lagi sebatas identik dengan aset kripto, tetapi telah berkembang menjadi infrastruktur yang mampu membangun kepercayaan, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha di era ekonomi digital.

Hal tersebut disampaikan Dosen Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada sekaligus Penasihat Serikat Blockchain Muhammadiyah, Ir. Noor Akhmad Setiawan, M.T., Ph.D., saat menjadi narasumber dalam sesi Business Opportunity: Omnichannel & Blockchain UMKM pada Business Gathering UMKM Jawa Timur 2026. Acara yang diselenggarakan LP UMKM PWM Jawa Timur bersama Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) itu berlangsung di Hall Masjid Al-Fattah, Tulungagung, Jumat (18/7).

Mengusung tema "Blockchain untuk Pengusaha Muslim: Membangun Amanah, Efisiensi, dan Peluang Bisnis Global di Era Digital", Noor menjelaskan bahwa esensi blockchain terletak pada kemampuannya membangun sistem kepercayaan dalam setiap transaksi bisnis.

"Blockchain bukan sekadar kripto. Ini tentang infrastruktur kepercayaan. Teknologi ini memungkinkan transaksi menjadi lebih transparan, mudah diaudit, dan mampu mengurangi biaya kepercayaan dalam dunia usaha," ujarnya.

Menurut Noor, setiap revolusi teknologi selalu menghadirkan peluang baru bagi mereka yang mampu beradaptasi. Karena itu, pelaku usaha seharusnya tidak lagi mempertanyakan perlu atau tidaknya mengenal blockchain, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan bisnis secara nyata.

"Sebagai pengusaha, kita tidak perlu mengejar teknologi hanya karena sedang populer. Yang terpenting adalah apakah teknologi itu mampu menyelesaikan masalah, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing usaha," katanya.

Ia menjelaskan, apabila internet merevolusi cara manusia bertukar informasi, maka blockchain merevolusi cara nilai, kepemilikan, sertifikat, hingga transaksi dikelola secara transparan melalui sistem yang sulit dimanipulasi. Karakteristik tersebut memungkinkan meningkatnya kepercayaan antarpihak, mempermudah proses audit, sekaligus meminimalkan potensi sengketa dalam transaksi bisnis.

Noor juga meluruskan anggapan bahwa blockchain identik dengan bitcoin atau aset kripto. Menurutnya, Bitcoin hanyalah salah satu aplikasi yang dibangun di atas teknologi blockchain. Sementara itu, penerapan blockchain jauh lebih luas, mulai dari sistem pembayaran digital, sertifikasi elektronik, pengelolaan rantai pasok, hingga pencatatan aset.

Dalam paparannya, ia menguraikan sejumlah peluang implementasi blockchain yang relevan bagi UMKM. Salah satunya adalah pemanfaatan stablecoin untuk pembayaran lintas negara yang memungkinkan proses penyelesaian transaksi berlangsung lebih cepat sehingga mempercepat perputaran modal kerja dan mempermudah pelaku usaha menembus pasar internasional.

Meski demikian, Noor mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tersebut tetap mengikuti regulasi yang berlaku dan tidak digunakan untuk aktivitas spekulatif.

"Gunakan blockchain untuk mendukung operasional bisnis, bukan untuk berspekulasi. Selalu pahami regulasi yang berlaku agar pemanfaatannya memberikan manfaat yang optimal," tegasnya.

Selain mendukung sistem pembayaran global, blockchain juga dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat daya saing ekspor UMKM melalui sistem traceability. Teknologi ini memungkinkan pembeli menelusuri asal-usul produk, proses produksi, hingga sertifikasi secara digital sehingga meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen.

Menurut Noor, konsumen global saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga menginginkan jaminan keaslian, transparansi, dan cerita di balik produk yang mereka konsumsi.

Ia juga menyoroti peluang penerapan blockchain dalam halal supply chain. Di pasar internasional, halal tidak hanya dipahami sebagai label, tetapi sebagai sistem yang harus dapat diverifikasi. Melalui blockchain, informasi mengenai bahan baku, proses produksi, sertifikat halal, hingga distribusi produk dapat terdokumentasi secara transparan sehingga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Lebih lanjut, Noor memperkenalkan berbagai peluang pemanfaatan blockchain lainnya, seperti tokenisasi aset produktif, crowdfunding UMKM, penerbitan sertifikat digital, sistem loyalitas pelanggan, hingga penggunaan smart contract untuk mengotomatisasi berbagai proses transaksi bisnis.

Meski menawarkan banyak peluang, ia mengingatkan bahwa seluruh inovasi tersebut harus berangkat dari kebutuhan bisnis yang nyata, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.

Dari perspektif Islam, Noor menegaskan bahwa blockchain hanyalah sebuah wasilah atau alat. Penilaian syariah tidak ditentukan oleh nama teknologinya, melainkan oleh akad yang digunakan, objek transaksi, tingkat transparansi, serta terbebas dari unsur gharar, maysir, dan riba.

"Teknologinya bersifat netral. Yang menentukan sesuai atau tidak dengan syariah adalah bagaimana teknologi itu digunakan. Selama menghadirkan amanah, keadilan, transparansi, dan kemaslahatan, maka blockchain dapat menjadi instrumen yang sangat bermanfaat bagi pengusaha Muslim," jelasnya.

Ia juga mengingatkan para pelaku usaha untuk memahami berbagai risiko yang menyertai pemanfaatan teknologi digital, seperti penipuan daring, phishing, kehilangan private key, hingga potensi pelanggaran regulasi apabila digunakan tanpa pemahaman yang memadai.

Menutup paparannya, Noor mengajak para pengusaha Muhammadiyah mulai mengeksplorasi blockchain melalui proyek-proyek sederhana yang memberikan manfaat langsung bagi pengembangan usaha.

"Masa depan ekonomi digital akan semakin bertumpu pada teknologi yang mampu membangun kepercayaan. Mulailah dari kebutuhan bisnis yang paling sederhana, lakukan secara bertahap, dan jadikan blockchain sebagai alat untuk memperkuat amanah, efisiensi, serta membuka peluang bisnis yang lebih luas," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow