Belajarlah Sampai di Negeri China

Belajarlah Sampai di Negeri China

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Saya dan rombongan Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata (MEBP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta berkesempatan mengunjungi Provinsi Hainan, China. Selama lima hari, kami melihat berbagai pusat pariwisata dan industri unggulan yang dikelola oleh pemerintah. Program Muhibah ini bagian dari promosi besar-besaran pemerintah China guna menarik wisatawan asing. Berbagai fasilitas kemudahan diberikan, supaya turis mau berkunjung. 

Mengusung tema Business Trip, rombongan kami mendapatkan berbagai inside menarik. "Yang bisa dijadikan pelajaran penting dalam mengembangkan bisnis dan sekaligus membangun Indonesia," begitu seloroh peserta, berlagak layaknya pejabat negara yang sedang studi banding ke luar negeri. "Ini bukan kaleng-kaleng, lima hari kita mendapatkan daging semua," begitu peserta lain yang merasa mendapatkan pelajaran penting.

Jika dulu kami hanya bisa membaca atau mendengar, bahwa hampir semua produk di Indonesia itu Made in China, hari ini kami menyaksikan sekilas bahwa semua itu nyata. Walau kami hanya sebentar, tetapi hilal bahwa hanya China saat ini yang paling berani berhadapan dengan negara adikuasa, tampaknya sangat mungkin.

Bisnis Totalitas

Ibarat permainan skema total football dalam sepak bola, begitu kami merasakan apiknya mereka mengelola bisnis sektor pariwisata. Tidak sekedar menyajikan panorama alamnya, seperti pantai, laut dan gedung-gedung jangkung yang menjulang ke langit nan indah apalagi jika dilihat dari kapal Cruisnya, Hainan juga sangat piawai mengemas jualan produk menjadi agenda wisata. Industri besar sekelas produk turunan dari serat bambu, obat herbal dan minyak ikan, saja berhasil mereka jual kepada para turis.

Barang-barang yang ditawarkan sesungguhnya sudah biasa kami dengar dan lihat, setidaknya melalui media sosial, tetapi teknik jualannya sangat menggoda, terutama kaum hawa yang memang secara emosional mudah “terpedaya”. 

Cara mereka menyambut kedatangan kami, melayani, menjelaskan dan retorika yang menarik disertai ekspresi emosional yang cerdas, membuat barang yang mungkin saja kurang bermanfaat, akhirnya dibeli juga. Tetapi itulah salesmanship, selalu mampu merubah persepsi negatif menjadi positif, benci jadi rindu, dan yang penting closing, penjualan pun terjadi.

China menerapkan model bisnis yang tertutup, setidaknya itu kesimpulan saya ketika merasakan hebatnya pemerintah memproteksi bisnis. Kondisi tersebut sejalan dengan idiologi ekonomi yang dibangunnya, yakni sosialis. 

Kendaraan listrik terutama sepeda motor telah menjadi bagian kehidupan warganya sehingga nyaris sulit ditemukan kendaraan berbahan bakar minyak. Populasi mobil listrik juga telah mencapai 50an% dari mobil yang ada. Menariknya, semua kendaraan listrik tersebut merupakan produksi dalam negeri.

Soal bisnis kuliner, China memang hebat. Produk kuliner kelas Internasional yang berkembang pesat di Indonesia, ternyata kalah dengan produk lokal. Makanan cepat saji, coffee dan deretan merk dunai lainnya, tidak banyak dijumpai. Masyarakat lebih memilih produk lokal dibanding produk asing. Mungkin juga karena harganya yang murah, tetapi budaya mencintai produk dalam negeri, kayaknya patut menjadi hikmah yang penting.

Wisata Ramah Muslim

Kekurangan Hainan bagi kami adalah wisata ramah muslim (moslem frendly). Faktanya kami kesulitan menemukan wisata kuliner yang menyuguhnya menu halal. Label halal tidak dijumpai, meskipun penjualnya muslim. Tempat sholat juga agak susah dijumpai, meskipun restorannya menyajikan makanan tanpa babi. Masjid memang ada, tetapi jumlahnya belum banyak, sehingga untuk bisa beribadah di masjid terasa sangat istimewa.

Keraguan muncul, ketika kami ingin menikmati, sajian kuliner khas malam hari di walking street, karena tidak adanya info halal. Banyak diantara kami akhirnya memilih hanya makan buah dan sekedar minum kopi. Kebutuhan wisata ramah muslim di dunia sesungguhnya sudah sangat tinggi. Saatnya Hainan mengambil ceruk pasar muslim, dengan mengembangkan destinasi wisata yang mampu menarik pelancong muslim timur tengah dan Indonesia atau negara lainnya.

Kemampuan China mengembangkan bisnis wisata layak untuk dijadikan pelajaran. Kata mutiara, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, menjadi relevan untuk melihat lebih dekat berbagai kemajuan China dalam banyak hal. Merubah persepsi negatif menjadi positif, mengembangkan kawasan biasa menjadi luar biasa dan merubah harga barang menjadi lebih murah, merupakan gambaran kecil keberhasilannya. Rasanya tepat juga ungkapan jawa, “dasar chino tenan”.

Ditulis dari Hotel Yu Bu Lun, Hainan, China, 19 Januari 2026.

Penulis: M. Riduwan

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow