Leaders School Immersion Program: Sebuah Catatan Perjalanan Pendidikan
Oleh: Tri Suryani, M.Pd.*
Penerbangan selama dua jam dari Yogyakarta melalui Yogyakarta International Airport menuju Changi International Airport, Singapura, tidak membuatku merasa lelah. Justru semangat terasa begitu kuat dalam diriku, bersama teman-teman dari rombongan kepala sekolah Muhammadiyah yang akan belajar di negara tetangga.
Di Singapura nanti kami akan menghadiri workshop bertajuk Immersion Program, yang diselenggarakan oleh Department of Primary, Secondary and Non Formal Education (Majelis Dikdasmen-PNF) PWM DIY bekerja sama dengan Marshall Cavendish Education Singapura. Program ini diikuti oleh 26 peserta: 4 kepala sekolah SD, 2 kepala sekolah SMP, 7 kepala sekolah SMA, 8 kepala sekolah SMK, 2 perwakilan Majelis Dikdasmen-PNF PWM, dan 2 direktur Mu’alimin. Acara berlangsung pada 19–22 November 2025 dan berlokasi di Village Hotel Changi Singapore.
Workshop pertama dilaksanakan di kantor pusat Marshall Cavendish Education (MCE) pada pukul 15.00–17.00 waktu Singapura. Setelah itu, pada pukul 18.52 kami melaksanakan ibadah salat berdasarkan jadwal MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), lalu kegiatan dilanjutkan dengan jelajah Singapura menggunakan Singapore River Cruise.
Materi pertama ialah AI Pedagogy (Pedagogi Berbasis Artificial Intelligence) yang disampaikan oleh Mr. Abu Bakar. Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar teknologi, melainkan sistem yang belajar dari data dan membuat keputusan. Penggunaan AI dalam pendidikan dapat membantu guru bekerja lebih efisien dan fokus pada siswa. Contoh seperti Grammarly dan fitur Magic Design menunjukkan bagaimana AI digunakan dalam aktivitas belajar.
Mr. Abu Bakar juga menekankan pentingnya literasi AI serta adopsi e-pedagogy bagi pendidik dalam menghadapi pembelajaran masa depan. Prinsip pengembangan kerangka literasi AI bertujuan agar pendidik dan peserta didik memiliki pemahaman, keterampilan, dan sikap yang tepat dalam menggunakan AI secara aman, efektif, dan etis.
Pada workshop hari kedua, Mr. Abu Bakar menyampaikan materi Change Leadership sebagai bekal kemampuan pemimpin untuk mengantisipasi perubahan, mengomunikasikan arah perubahan, memotivasi staf, beradaptasi, serta memastikan implementasi perubahan berjalan efektif dan berkesinambungan.
Hari ketiga berisi materi manajemen risiko. Materi ini menjelaskan bahwa manajemen risiko merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko yang dapat berdampak negatif atau positif bagi organisasi. Termasuk di dalamnya penolakan, ketidaksetujuan, atau hambatan dari karyawan atau staf terhadap kebijakan baru, aplikasi, atau perangkat yang digunakan dalam pekerjaan.
Pada workshop hari keempat, materi disampaikan oleh Tri Turturi Farah Meswari selaku Regional Director Southeast Asia MCE. Ia memaparkan bahwa kepala sekolah harus mampu mengidentifikasi dan menyesuaikan praktik agar setiap orang menerima apa yang mereka butuhkan secara personal. Kepala sekolah juga memiliki tugas untuk “membebaskan guru agar dapat fokus pada pengajaran” dengan memberikan dukungan yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui berbagai pendekatan.
Workshop terakhir membahas Mathematics and Artificial Intelligence, disampaikan oleh Ms. Siew Peng Koh selaku Training Manager MCE. Materi ini menjelaskan bahwa matematika merupakan dasar fundamental bagi AI, memungkinkan mesin memahami, memproses, dan membuat keputusan melalui algoritma, model, dan logika. Sebaliknya, AI juga membantu mempermudah dan merevolusi pembelajaran matematika melalui personalisasi dan alat bantu pemecahan soal.
*Penulis adalah Kepala SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow