Ketika Suara Letto Menyapa Guru Indonesia
Pagi itu, di ruang besar Jogja Expo Center, Ahad (2/11), suara grup band Letto menggema bukan sekadar hiburan, melainkan panggilan nurani. Ribuan hadirin yang terdiri dari guru dari berbagai daerah dan para pendampingnya duduk khidmat dalam acara Pelepasan PPG Guru Tertentu 2025 yang digelar oleh Universitas Ahmad Dahlan. Udara masih sejuk, dan suasana terasa hangat oleh semangat, haru, dan kebanggaan.
Tak lama, band Letto naik ke panggung, membawakan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga banyak orang. Namun lebih dari sekadar musik, ada suasana reflektif edukatif yang lahir dari lirik dan tutur Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, sang vokalis. Ia tidak hanya bernyanyi, tapi berdialog dengan hati para guru.
Di tengah penampilan, Sabrang berhenti sejenak, menatap para guru, lalu berkata dengan nada yang tenang namun menyentuh:
“Guru itu bukan ngajarin ilmu ke muridnya, Guru itu memberi kesempatan si murid untuk belajar kepadanya. Makanya semakin gurunya bisa membuka wahana, semakin si murid bisa belajar banyak belajar.” tuturnya.
Kalimat sederhana itu seketika menggema di ruangan luas itu. Banyak guru mengangguk pelan, seperti sedang bercermin pada pengalaman mereka sendiri. Bahwa tugas guru bukan menjejalkan ilmu, melainkan membuka ruang belajar, menuntun murid menemukan maknanya sendiri.
Tak lama, Letto melanjutkan penampilannya. Lagu tradisional Jawa “Gundul-Gundul Pacul” mengalun ringan, namun tiba-tiba berubah irama dari dangdut ke rock metal, lalu ke keroncong. Sabrang dan gitaris menari kecil sambil berkata di sela musik:
“Resiko guru zaman sekarang adalah ketinggalan teknologi sama murid-muridnya
Jadi gak tahu kalau dirasani murid-muridnya. Kalau diajak ngobrol gak paham, diajak ngobrol Tiktok ga paham. Makanya guru-guru semua harus update sama teknologi karena njenenganlah semua yang akan jadi panutan murid-muridnya” pesannya dengan nada jenaka namun penuh makna.
Gelak tawa terdengar di antara para peserta, namun di balik canda itu tersirat kenyataan: guru masa kini harus terus belajar, mengikuti perubahan zaman, agar tetap bisa menuntun generasi digital tanpa kehilangan arah nilai.
Di tengah pergantian lagu, Sabrang kembali menatap audiens dan mengucapkan kalimat yang menjadi inti seluruh perjumpaan pagi itu:
“Si anak suka sesuatu yang boleh jadi tidak disukai gurunya, Cuma perlu kita guru temenin agar ia tidak jauh berekspresi” katanya dengan lembut.
Dan ia melanjutkan menyampaikan pesan reflektif yang menancap dalam di hati para guru:
“Bukan muridnya yang harus beradaptasi kepada gurunya. Tetapi guru harus pandai beradaptasi pada situasi muridnya. Bawa mereka berkelana, tapi jangan lupa untuk bawa mereka pulang ke rumahnya juga” tegasnya sambil tersenyum.
Kata-kata itu seperti oase di tengah keringnya narasi tentang pendidikan yang sering hanya diukur dengan angka dan sertifikat. Ia mengingatkan bahwa esensi pendidikan adalah pendampingan dan penuntunan, bukan sekadar pengajaran.
Di sinilah makna Sumpah Guru Indonesia terasa hidup:
Bahwa guru berjanji melaksanakan tugas dengan tanggung jawab yang tinggi, mengutamakan kepentingan peserta didik, masyarakat, bangsa, dan negara, serta menghormati hak asasi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sebagai warga yang bermoral dan berakhlak mulia.
Guru juga berjanji melestarikan dan menjunjung tinggi martabat guru sebagai profesi terhormat dan mulia, serta berusaha menjadi teladan dalam berperilaku bagi peserta didik dan masyarakat.
Janji ini bukan sekadar teks seremonial, melainkan napas yang menghidupkan profesi guru dari waktu ke waktu.
Dalam jeda setelah menyanyikan satu lagu, Sabrang tersenyum dan bertanya ringan kepada para guru:
“Siapa di sini yang pernah makan durian?” Serentak hampir semua tangan terangkat. Tapi ketika ia bertanya lagi,
“Siapa yang pernah menanam pohon durian dan menikmati buahnya sendiri?” Hanya segelintir tangan yang masih terangkat.
Ia lalu tersenyum dan menatap para guru di hadapannya. Dari pertanyaan sederhana tentang durian yang baru saja ia lontarkan, tersirat makna mendalam: bahwa guru sejati bukan hanya penikmat hasil, melainkan penanam yang sabar. Ia menanam nilai, pengetahuan, dan karakter yang buahnya mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian. Dalam kesunyian tugasnya, guru belajar menunggu waktu panen dengan hati yang ikhlas dan cinta yang tulus.
Letto kemudian menyitir potongan dari Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 257: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa Allah adalah sumber cahaya dan bimbingan. Guru sejati adalah perpanjangan tangan Tuhan di dunia Pendidikan, membawa murid keluar dari gelapnya ketidaktahuan menuju cahaya ilmu dan iman. Mereka menyalakan obor agar generasi muda tidak tersesat di lorong zaman yang berubah cepat.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia “Guru bukan hanya agen pembelajaran, tetapi agen peradaban berkelanjutan bangsa. Jadilah guru-guru yang hebat untuk mendidik anak-anak yang kuat, menuju Indonesia yang bermartabat.” Pesan Mendikdasmen dalam sambutan peluncuran Bulan Guru Nasional 2025.
Pernyataan itu mempertegas bahwa menjadi guru berarti memegang amanah besar: menjaga martabat profesi yang mulia. Karena itu, guru harus terus belajar, beradaptasi, dan menyalakan cahaya nilai di tengah perubahan zaman.
Menjelang akhir, sebelum lagu “Sebelum Cahaya” dibawakan, Sabrang mengenakan selempang bertuliskan “Guru Profesional” di dadanya. Ia menatap para guru dan berkata dengan penuh semangat:
“Guru itu sesuatu yang spesial. Yang bisa membangun profesi-profesi yang lain. Yang melatih anak-anak agar bisa menanam semua hal. Jadi jangan minder. Jangan merasa rendah. Guru itu penyangga peradaban. Guru itu penyangga bangsa. Cahaya masa depan Indonesia itu bukan dari langit, tapi dari tangan-tangan yang memegang cahaya. Anda adalah sumber cahaya bagi yang lain.” katanya dengan lantang disambut tepuk tangan panjang.
Sebelum turun panggung, ia melantunkan baris terakhir lagu “Sebelum Cahaya”:
“Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra. Yang 'kan membelaimu, Cinta?”
Dan akhirnya, dengan nada pelan dan penuh rasa syukur, ia memanjatkan doa penutup:
“Ya Allah, semoga dulur-dulurku semua, selalu dijaga manfaatnya. Selalu dijaga martabatnya. Dan semoga dipercaya Tuhan untuk megang cahaya untuk masa depan. Aamiin.”
Doa itu menggema lembut di seluruh ruangan. Tidak sedikit yang menundukkan kepala, menahan haru. Karena setiap guru tahu, doa itu adalah cermin dari panggilan mereka sebagai guru professional, menjaga cahaya agar tidak padam, menuntun generasi dari gelap menuju terang.
Penulis: Sucipto, M.Pd. B.I. Ph.D. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow