Abdul Mu’ti: Jangan Jadi Mahasiswa 3K, Jadilah Mahasiswa ACC
MANADO – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., memberikan motivasi kepada sivitas akademika Universitas Muhammadiyah (UM) Manado dalam kunjungannya, Jumat (26/9).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana mobilitas sosial. “Pendidikan merupakan alat mobilitas sosial vertikal yang paling mungkin dan yang paling bisa bertahan,” ujarnya.
Menurutnya, kuliah tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus dibarengi dengan kreativitas dan kompetensi kerja. Ia mengutip gagasan Robert Kiyosaki yang membagi tipe mahasiswa ke dalam beberapa kategori: mahasiswa A (Academic) yang fokus pada nilai, mahasiswa C (Creativity) dengan kemampuan kreativitas, serta mahasiswa AC yang menggabungkan keduanya.
Namun, Abdul Mu’ti menambahkan satu kategori baru yang ia sebut sebagai mahasiswa ACC, yakni mahasiswa yang memiliki Academic excellence, Creativity, dan Competency. “AC saja tidak cukup, mahasiswa perlu menjadi ACC, yakni memiliki kemampuan akademik yang baik, kreativitas tinggi, serta kompetensi kerja masa depan,” tegasnya.
Salah satu kompetensi penting, lanjutnya, adalah kepemimpinan (leadership). Ia pun menuturkan pengalamannya saat menjadi mahasiswa. Meski IPK-nya biasa saja, ia tetap bisa meraih beasiswa Supersemar dan AUSAID berkat aktivitas organisasi yang mengasah jiwa kepemimpinannya.
“Yang membuat saya bisa sampai menjadi menteri bukan nilai semata, tapi kemampuan leadership yang saya dapatkan sejak aktif di IMM, Pemuda Muhammadiyah, hingga akhirnya dipercaya menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah selama dua periode,” ungkapnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pola 3K (kos-kosan, kampus, kantin). “Kalian jangan jadi mahasiswa 3K. Jadilah mahasiswa ACC, miliki semangat tinggi dan stamina intelektual yang kuat,” pesannya.
Sebagai tambahan, ia merekomendasikan buku Mindset karya Carol Dweck kepada mahasiswa UM Manado. Buku itu, menurutnya, sejalan dengan ajaran Islam. “Buku ini menjelaskan bahwa untuk maju seseorang harus punya pikiran untuk maju. Isinya sejalan dengan firman Allah dalam surat Ar-Ra’d: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka,” jelasnya.
Ia menutup pidatonya dengan ajakan untuk terus memperbaiki diri. “Kalau mindset berubah, maka kepribadian berubah. Kalau individu berubah, maka bangsa akan berubah. Inilah yang ingin kita bangun bersama,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow