Praktik Baik G7KAIH di Jawa Tengah Jadi Inspirasi Penguatan Karakter Nasional

Praktik Baik G7KAIH di Jawa Tengah Jadi Inspirasi Penguatan Karakter Nasional

Smallest Font
Largest Font

SEMARANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menggelar kegiatan Fasilitasi dan Advokasi Kebijakan Penguatan Karakter di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, Selasa (30/9). Kegiatan ini menampilkan praktik baik implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) sebagai strategi pembentukan karakter sekaligus penguatan profil lulusan sesuai Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025.

Kepala BBPMP Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, menjelaskan bahwa sejak Mei 2025 pihaknya konsisten melaksanakan tahapan implementasi G7KAIH, mulai dari sosialisasi panduan kebijakan, diskusi lintas sektor, advokasi bagi penilik dan pengawas, hingga pendampingan sekolah. Pada September lalu, BBPMP menggelar workshop penyusunan media interaktif untuk siswa SD serta webinar berbagi praktik baik. “Dalam workshop, anak-anak SD ikut menyusun media interaktif untuk memperkuat internalisasi G7KAIH,” ungkap Nugraheni.

Selain itu, BBPMP Jawa Tengah mengembangkan model penilaian karakter berbasis program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selaras dengan delapan dimensi profil lulusan. Praktik baik ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekolah dalam memperkuat karakter peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin, menekankan pentingnya keterlibatan orang tua. “Anak bukan pendengar yang baik, tetapi peniru ulung. Kalau orang tuanya sibuk pegang HP, anak pasti meniru. Karena itu guru dan orang tua harus hadir sebagai teladan,” jelasnya. Ia juga mencontohkan berbagai inovasi di sekolah, mulai dari program parenting bersama wali murid (PARWALI), kolaborasi dengan DUDIKA, hingga penguatan karakter siswa melalui Duta Anti Tawuran dan Agen Perubahan Pelajar Pancasila.

Keberhasilan implementasi G7KAIH juga tampak di SD Negeri Sarawadari III. Kepala sekolah Layla Tulipadria menyebut pembiasaan dilakukan setiap hari, mulai dari doa bersama, salat dhuha, olahraga Pagi Ceria, hingga bekal sehat sesuai panduan Isi Piringku. Gerakan literasi diperkuat melalui program Sapa Mentari, koin literasi, hingga festival permainan tradisional. “Anak hebat itu lahir dari rutinitas baik yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Atas berbagai inovasi tersebut, SD Negeri Sarawadari III meraih predikat Sekolah Sadar Literasi Numerasi dari Ditjen PAUD Dikdasmen sekaligus ditetapkan sebagai Sahabat Sekolah Dasar 2025. Capaian ini menjadikan sekolah tersebut sebagai role model implementasi G7KAIH di tingkat nasional.

“Semoga praktik baik ini menjadi inspirasi sekaligus bahan refleksi bersama dalam penguatan karakter di satuan pendidikan. Karena pada akhirnya, anak hebat lahir dari pembiasaan baik yang dijaga bersama,” pungkas Layla.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow