Launching One Muhammadiyah Brand UMKM, Perkuat Kolaborasi dan Pasar Warga Persyarikatan
YOGYAKARTA — Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LP UMKM PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Koordinator Daerah Serikat Usaha Muhammadiyah (Korda SUMU) DIY menggelar Silaturahmi dan Buka Bersama pada Selasa (10/3) di Ballroom Suara Muhammadiyah (SM) Tower.
Kegiatan ini menjadi momentum mempererat jejaring pelaku usaha Muhammadiyah sekaligus meluncurkan One Muhammadiyah Brand UMKM, sebuah inisiatif penguatan produk usaha warga dengan identitas merek bersama.
Koordinator Daerah SUMU DIY, Tanaka Hirataro Setiawan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan pelaku usaha SUMU se-DIY yang telah hadir, baik dari Sleman, Yogyakarta, Bantul, maupun daerah sekitarnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor dan mitra yang mendukung kegiatan tersebut.
Menurutnya, momentum buka puasa bersama ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk memperkuat kolaborasi antarpelaku usaha Muhammadiyah.
“Harapannya kita bisa memaknai buka puasa ini sebagai momentum untuk berkolaborasi. Setelah buka bersama kita bisa saling berbagi cerita, berbagi tentang bisnis kita, sehingga bisa saling menguatkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua LP UMKM PWM DIY Iki Tabah Ujianan secara resmi memperkenalkan program One Muhammadiyah Brand UMKM. Program ini bertujuan membangun pasar internal Muhammadiyah dengan berbagai produk UMKM yang memiliki identitas merek bersama.
Ia menjelaskan bahwa konsep ini memungkinkan beragam produk UMKM dipasarkan dengan satu brand Muhammadiyah, sehingga lebih mudah dikenal oleh warga persyarikatan.
“Kita ingin membentuk pasar Muhammadiyah. Produknya bisa bermacam-macam, tetapi brand-nya Muhammadiyah,” jelasnya.
Pada tahap awal, terdapat empat produk yang diluncurkan dalam program tersebut, yakni rendang, abon, sambal, dan sambal pecel. Produk-produk ini dipilih karena memiliki pasar yang jelas, salah satunya untuk kebutuhan jamaah haji dan umrah yang sering membutuhkan makanan praktis, halal, dan berkualitas.
Menurut Tabah, yang menjadi kunci dari program ini bukan kepemilikan produk oleh LP UMKM, melainkan kepemilikan merek bersama yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pelaku UMKM Muhammadiyah.
“Yang penting bukan produknya milik LP UMKM, tetapi brand-nya milik Muhammadiyah. Dengan begitu, produk ini bisa ditiru dan dikembangkan oleh daerah lain,” ujarnya.
Namun demikian, setiap produk yang akan menggunakan brand tersebut harus melalui proses kurasi agar memenuhi standar kualitas serta memiliki pasar yang jelas.
Ia menambahkan, program ini juga dirancang untuk mendorong kolaborasi, bukan persaingan antar-UMKM Muhammadiyah. Misalnya, jika produk diproduksi di Sleman, maka produsen dari wilayah lain dapat berperan dalam distribusi atau pengembangan pasar.
“Harapannya semua UMKM bisa maju bersama tanpa saling bersaing atau menjatuhkan,” tambahnya.
Tabah juga menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti pada empat produk awal. Ke depan, berbagai produk UMKM lain berpeluang bergabung selama memenuhi syarat, terutama memiliki pasar yang jelas agar produk dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kami berharap produk-produk ini bisa berumur panjang, berkembang, dan jumlahnya semakin banyak,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow