SUMU Catalyst Bahas Strategi Membangun Bisnis Tahan Krisis di Tengah Ketidakpastian
JAKARTA — Situasi krisis dan ketidakpastian menjadi tantangan yang harus diantisipasi setiap pelaku usaha. Karena itu, kemampuan menjaga operasional bisnis agar tetap berjalan ketika terjadi gangguan menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Hal tersebut dibahas dalam webinar “Situasi Boleh Krisis, Tapi Bisnis Harus Mampu Bertahan” yang digelar Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melalui program SUMU Catalyst bersama Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia, Senin (24/8). Webinar tersebut menghadirkan Yuliasman Chaniago, Founder CQRS Indonesia, sebagai narasumber. Yuliasman juga merupakan pendiri Sikabu Global Ventures, ObrolBisnis Media Network, mauapa.id, dan Krowde.
Dalam pemaparannya, Yuliasman menekankan pentingnya memahami perbedaan antara manajemen risiko dan Business Continuity Management (BCM) atau Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU). Menurutnya, manajemen risiko berfokus pada upaya mencegah dan mengendalikan gangguan. Sementara itu, BCM memastikan dampak gangguan dapat dikendalikan dengan menjaga fungsi bisnis prioritas tetap berjalan ketika risiko benar-benar terjadi.
“Ketahanan bisnis bukan sekadar memiliki prosedur ketika krisis terjadi, tetapi membangun kapabilitas agar organisasi mampu tetap beroperasi ketika kondisi normal terganggu,” ujarnya.
Yuliasman menjelaskan, organisasi modern menghadapi berbagai gangguan yang mungkin memiliki probabilitas relatif rendah, tetapi berpotensi menimbulkan dampak sangat besar. Karena itu, mekanisme kelangsungan usaha tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen, tetapi perlu diuji secara berkala dan terintegrasi dengan proses pengambilan keputusan bisnis.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kecepatan respons. Dalam situasi krisis, organisasi tidak selalu membutuhkan keputusan yang sempurna, tetapi keputusan yang cukup cepat untuk mencegah situasi berkembang di luar kendali.
Materi webinar menekankan bahwa respons yang memadai dalam 30 menit dapat jauh lebih bernilai dibandingkan respons sempurna yang baru dilakukan beberapa jam kemudian. Webinar juga membahas pentingnya pembagian peran dan akuntabilitas dalam membangun ketahanan organisasi.
Dalam model yang dipaparkan, unit bisnis menjadi pemilik risiko dan kelangsungan operasional, sedangkan fungsi SMKU korporat menyediakan standar dan metodologi. Sementara itu, audit internal berperan memberikan jaminan secara independen.
Untuk organisasi yang kompleks, pendekatan model hibrida dinilai dapat menjadi pilihan yang lebih optimal. Standar dan perangkat disediakan secara terpusat, sementara pelaksanaan dan rencana kelangsungan usaha tetap menjadi tanggung jawab masing-masing unit bisnis.
Pendekatan tersebut penting karena gangguan bisnis tidak selalu bermula dari persoalan teknologi. Gangguan dapat berdampak pada fungsi kritis, proses operasional, teknologi dan data, hingga rantai pasok serta vendor.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai Business Impact Analysis (BIA) untuk mengidentifikasi fungsi dan proses bisnis yang kritis, termasuk ketergantungannya terhadap teknologi, data, maupun pihak ketiga.
Salah satu indikator penting yang perlu ditentukan adalah Recovery Time Objective (RTO). Yuliasman menekankan bahwa RTO bukan sekadar angka teknis, melainkan keputusan manajemen mengenai batas waktu pemulihan suatu fungsi berdasarkan tingkat kerugian yang masih dapat ditoleransi.
Selain itu, webinar membahas perbedaan antara tanggap darurat, manajemen krisis, manajemen kelangsungan usaha, dan pemulihan bencana IT. Keempatnya memiliki fokus berbeda, tetapi perlu terintegrasi agar organisasi mampu menghadapi gangguan secara menyeluruh.
Melalui SUMU Catalyst, SUMU terus menghadirkan ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi pelaku usaha Muhammadiyah. Webinar ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengusaha tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi risiko, gangguan operasional, dan kondisi krisis.
Ketahanan bisnis, menurut materi yang disampaikan, tidak cukup dibangun melalui dokumen atau keberadaan seorang manajer khusus. Resiliensi akan lebih kuat ketika kemampuan menghadapi krisis telah terinstitusionalisasi dan menjadi bagian dari budaya organisasi.
Melalui SUMU Catalyst, SUMU berkomitmen memperluas akses pelaku usaha Muhammadiyah terhadap pengetahuan, jejaring, dan praktik bisnis yang relevan. Dengan demikian, pengusaha Muhammadiyah diharapkan tidak hanya mampu tumbuh, tetapi juga semakin siap menghadapi berbagai ketidakpastian di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow