Inspiratif! Santri Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim Raih Sertifikasi Guru Al-Qur’an di Usia 14 Tahun
SLEMAN — Di tengah derasnya arus zaman dan tantangan generasi muda hari ini, kabar membanggakan datang dari Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim. Salah satu santri terbaiknya, yaitu Hanafi, berhasil meraih Sertifikasi Guru Al-Qur’an Metode UMMI di usia yang masih sangat muda, 14 tahun.
Perjalanan Hanafi bukanlah perjalanan yang instan. Sejak kecil, tepatnya sejak duduk di bangku kelas 3 SD atau sejak awal berdirinya Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim, Hanafi telah tumbuh bersama lingkungan Al-Qur’an. Hari demi hari dilaluinya dengan belajar membaca, menghafal, dan mendalami nilai-nilai Islam dalam pembinaan Rumah Tahfidz.
Melihat pentingnya mencetak kader pengajar Al-Qur’an untuk masa depan umat, Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim kemudian menghadirkan sebuah program unggulan bernama “Program Sudirman” atau Program Kaderisasi Guru Ngaji. Program ini dirancang sebagai wadah pembinaan generasi muda agar tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga siap menjadi pengajar dan pejuang dakwah di tengah masyarakat.
Program Sudirman dilaksanakan selama dua tahun dengan pembinaan yang intensif dan terarah. Para santri tidak hanya dibekali kemampuan membaca Al-Qur’an Metode UMMI, tetapi juga dibina dalam berbagai aspek keilmuan dan karakter.
Dalam program ini, para santri mendapatkan pembelajaran materi diniyah seperti aqidah, hadits, dan sejarah Islam. Selain itu, mereka juga dilatih membangun karakter kepemimpinan dan mental perjuangan melalui pelatihan public speaking, praktik menjadi imam sholat, serta pembinaan kedisiplinan yang ketat.
Beberapa aturan kedisiplinan yang diterapkan di antaranya adalah pembatasan penggunaan media sosial hanya satu kali dalam sepekan, kewajiban bangun dan mandi sebelum subuh, menjaga sholat lima waktu berjamaah di masjid, melatih budaya literasi ilmu agama, hingga membiasakan menulis sebagai bagian dari pengembangan intelektual santri.
Tidak hanya itu, pembelajaran Metode UMMI juga dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin hingga Kamis sebagai bagian dari persiapan menuju sertifikasi guru Al-Qur’an.
Mungkin usia Hanafi masih sangat muda. Namun sejarah telah membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk menjadi pribadi hebat. Dalam sejarah peradaban Islam, kita mengenal sosok Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun setelah ditempa dengan pendidikan aqidah, ilmu, dan Al-Qur’an sejak kecil.
Begitu pula Imam Syafi’i yang telah menghafal Al-Qur’an di usia belia dan menjadi ulama besar yang pemikirannya terus hidup hingga hari ini. Bahkan Abdullah bin Abbas, sahabat Nabi yang dikenal sebagai ulama muda umat Islam, telah menjadi rujukan ilmu sejak usia remaja.
Semua itu menunjukkan bahwa pembinaan aqidah dan Al-Qur’an sejak dini mampu melahirkan generasi yang kuat, cerdas, dan memiliki visi perjuangan untuk umat.
Perjalanan Hanafi sendiri juga tidak selalu mudah. Dalam prosesnya, ada banyak tangisan, kelelahan, bahkan beberapa kali muncul rasa ingin menyerah. Namun berkat dukungan para guru, pengurus Rumah Tahfidz, dan lingkungan yang terus menguatkan, Hanafi mampu melewati setiap proses hingga akhirnya berhasil meraih sertifikasi tersebut.

Prestasi ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan menjadi harapan bagi masa depan umat. Di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap profesi guru ngaji, Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim hadir untuk terus menjaga estafet perjuangan Al-Qur’an.
“Melalui Program Kaderisasi Guru Ngaji, Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim ingin terus mengabdi untuk negeri dengan membangun generasi yang berakhlak, beradab, berilmu, dan siap menjadi pelita umat di masa depan,” ujar Direktur Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim, Prakash Adi Brata.
Beliau juga menyampaikan bahwa di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap profesi guru ngaji, program ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pengajar Al-Qur’an yang tidak hanya memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga mempunyai aqidah yang kuat, karakter perjuangan, dan semangat pengabdian untuk umat.
“Jika hari ini kita gagal menyiapkan guru-guru Al-Qur’an, maka generasi mendatang bisa kehilangan arah. Karena itu, pembinaan Al-Qur’an sejak usia dini adalah investasi besar untuk masa depan umat dan bangsa,” tambah Prakash Adi Brata.
Kurangnya minat terhadap profesi guru Al-Qur’an menjadi pekerjaan rumah besar bagi umat Islam hari ini. Sebab jika generasi penerus kehilangan pengajar Al-Qur’an, maka bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan arah dan mudah terjerumus dalam kebodohan moral maupun spiritual.
Melalui Program Kaderisasi Guru Ngaji, Rumah Tahfidz Muhammadiyah KH Agus Salim ingin terus mengabdi untuk negeri dengan membangun generasi yang berakhlak, beradab, berilmu, dan siap menjadi pelita umat di masa depan.
Semoga perjuangan Hanafi menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk menanamkan aqidah dan kecintaan kepada Al-Qur’an sejak dini kepada anak-anak mereka. Karena dari rumah-rumah yang dipenuhi Al-Qur’an, akan lahir pemimpin-pemimpin hebat untuk masa depan Islam dan bangsa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow