Dampak Siklon Tropis terhadap Ekonomi, Pakar UMY: Sektor Primer Paling Rentan
YOGYA - Fenomena siklon tropis yang kian sering terjadi di wilayah Indonesia membawa dampak serius terhadap perekonomian nasional, khususnya dalam konteks ekonomi pembangunan. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan melalui kerusakan fisik akibat bencana, tetapi juga memengaruhi keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di daerah yang struktur ekonominya masih bertumpu pada sektor primer.
Pakar Ekonomi Islam dan Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D., menilai siklon tropis sebagai bentuk guncangan eksternal yang berpotensi memperlambat proses pembangunan ekonomi. Ketika bencana terjadi, aktivitas produksi terganggu, rantai pasokan terputus, dan daya beli masyarakat melemah.
“Dari perspektif ekonomi pembangunan, siklon tropis dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Dampaknya tidak hanya pada kerusakan aset, tetapi juga pada terganggunya rantai pasokan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan angka kemiskinan, terutama di wilayah yang bergantung pada sektor-sektor rentan,” jelas Dyah saat diwawancarai, Jumat (19/12) di UMY.
Dyah menyebut sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang paling terdampak oleh siklon tropis. Curah hujan ekstrem dan angin kencang berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman, gagal panen, hingga kehilangan hasil produksi. Dampak tersebut secara langsung menekan pendapatan petani dan mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal maupun regional.
Selain pertanian, sektor perikanan juga berada pada posisi yang sangat rentan. Kerusakan sarana dan prasarana perikanan, hilangnya alat tangkap, serta terganggunya aktivitas melaut membuat nelayan kehilangan sumber penghidupan dalam waktu yang tidak singkat.
“Pada sektor perikanan, dampaknya bisa berlangsung cukup lama. Nelayan tidak dapat langsung kembali melaut karena alat dan infrastruktur yang rusak. Kondisi ini turut memengaruhi pasokan hasil laut dan stabilitas ekonomi masyarakat pesisir,” ungkap Dyah.
Ia menambahkan, sektor pariwisata juga terdampak signifikan akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan. Penurunan tersebut berdampak langsung pada pendapatan pelaku usaha lokal serta tenaga kerja yang bergantung pada sektor pariwisata.
Lebih lanjut, Dyah menyoroti kerusakan infrastruktur sebagai faktor kunci yang memperparah dampak ekonomi akibat siklon tropis. Kerusakan jalan, jembatan, dan fasilitas publik menyebabkan distribusi barang terhambat dan biaya logistik meningkat.
“Kerusakan infrastruktur berdampak langsung pada produktivitas ekonomi. Ketika akses terganggu, biaya distribusi meningkat dan aktivitas usaha melambat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi regional dan memperlebar kesenjangan antarwilayah,” pungkasnya. (NF)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow